Dalampenanggulangan limbah cair pada pabrik sawit terdapat kolam buatan ini terdiri dari : Kolam Fat Pit Pada kolam ini terdapat 6 tingkat pengutipan dengan tujuan untuk penampungan sementara lossis minyak hasil dari pengolahan dan pengutipan kembali minyak yang ikut terbuang. Limbahwarna hitam dari pabrik kelapa sawit milik PT MPA. Limbah mengalir ke sungai dan saluran irigasi akibat limbah meluber dari dalam kolam. Alpian mengatakan dirinya datang karena ada aspirasi dari masyarakat terkait dugaan pencemaran lingkungan. "Saya datang tidak untuk mencari kesalahan dari PT MPA. Saya datang untuk pastikan kondisi 24.1 Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit . Limbah cair juga dihasilkan pada proses pengolahan kelapa sawit. Limbah ini berasal dari kondensat, stasiun klarifikasi, dan dari hidrosilikon. Proses pengolahan limbah dengan sistem kolam pengendalian limbah mempunyai beberapa tahapan proses pengolahan yaitu sebagai berikut : a. Kolam Pendinginan kolamlimbah akan menghasilkan gas metan pada ko-lam anaerobik. LCPKS yang diolah seperti ini memer-lukan areal yang luas dan biaya yang tinggi untuk [7,13] Elektrokoagulasi limbah pabrik kelapa sawit belum banyak yang melakukan penelitian. Proses elektrokoagulasi pada prinsipnya berdasarkan pada proses sel elektrolisis. Sel elek- Kolamlimbah pabrik kelapa sawit PT Tunggal Perkasa Plantation, perusahaan yang masuk Grup Astra di Riau, jebol dan mencemari sungai. dengancara melakukan penutupan kolam. Pemanfaatan biogas pada pabrik minyak kelapa sawit kasar berdampak berkurangnya emisi GRK secara signifikan (V ijaya, 2010). Salah satu cara pengolahan limbah cair pabrik minyak kelapa sawit yang lebih ramah lingkungan adalah pengolahan anaerobik dalam tangki bioreaktor tertutup. Pengolahan limbah padakolam pengolahan air limbah selama 134 hari untuk produksi 60 ton/jam. Analisis perubahan lahan menunjukkan area perkebunan dan pabrik kelapa sawit yang diteliti berada di zona kesesuaian lahan baik dan sedang. Bentuk perubahan lahan merupakan peralihan dari hutan tanaman ke perkebunan kelapa sawit. Masingmasing IPAL dari setiap pabrik kelapa sawit mempunyai kolam- kolam yang memiliki kedalaman, luas dan volume yang berbeda-beda. Dengan demikian waktu tinggal atau WPH (Waktu Penahanan Hidrolysis)-nya juga berbeda- beda. Luas kolam yang terkecil adalah 6.800 m2, sedangkan yang terbesar adalah 42.500 m2. PengolahanLimbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Kolam Anaerob Sekunder 1 Menjadi Pupuk Organik Melalui Pemberian Zeolit. Seminar Nasional Sains & Teknologi V, 616-628. Pandapotan, C.D. and Marbun, P. (2017). Pemanfaatan Limbah Lumpur Padat (Sludge) Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit Sebagai Alternatif Penyediaan Unsur Hara Di Tanah Ultisol Utilization Menyatakandengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul "Analisis Perbedaan Penurunan Kadar BOD Dan COD pada Limbah Cair Industri Tahu Menggunakan Zeolit (Studi di Pabrik Tahu di Desa Kraton Kecamatan Kencong Kabupaten Jember)" adalah benar-benar karya sendiri, kecuali kutipan yang sudah saya sebutkan sumbernya, belum pernah diajukan pada instansi manapun, dan bukan karya jiplakan. uonZS. Perhitungan besarnya beban pencemaran yang masuk ke lingkungan tergantung pada kegiatan yang ada disekitar lingkungan tersebut. Untuk daerah pemukiman beban pencemaran biasanya diperhitungkan melalui kepadatan penduduk dan rata-rata perorang membuang limbah. Limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan industri sangat bervariasi tergantung dari jenis dan ukuran industri, pengawasan pada proses industri, derajat penggunaan air, dan derajat pengolahan air limbah yang ada. Selain limbah cair, limbah padat sampah juga merupakan beban pencemaran yang dapat masuk ke lingkungan baik secara langsung maupun tak langsung. Secara konvensional pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit LCPKS dilakukan dengan sistem kolam yang terdiri dari kolam anaerobik dan aerobik dengan total waktu retensi sekitar 90-120 hari Wulfert et al., 2000. Keuntungan dari cara ini antara lain adalah • Sederhana • Biaya investasi untuk peralatan rendah • Kebutuhan energi rendah Akan tetapi bila ditelaah lebih lanjut, sistem kolam mempunyai beberapa kerugian antara lain • Kebutuhan areal untuk kolam cukup luas, yaitu sekitar 5 ha untuk pabrik kelapa sawit PKS dengan kapasitas 30 ton/jam. • Perlu biaya pemeliharaan untuk pembuangan dan penanganan Lumpur dari kolam. Untuk PKS yang menggunakan separator 2 fase, praktis semua lumpur sludge yang berasal dari buah mengalir ke kolam. Padatan tersuspensi dari Lumpur ini tidak akan/sedikit didegradasi sehingga konsentrasinya akan semakin meningkat dan akan mengendap di dasar kolam akan semakin menurun sehingga waktu retensi limbah akan turun dan kapasitas perombakkan kolam juga turun. Disamping itu pembuangan lumpur juga tidak dapat dilakukan pada semua bagian kolam karena luas dan dalamnya kolam. • Hilangnya nutrisi Semua nutrisi yang berasal dari limbah N, P, K, Mg, Ca akan hilang pada waktu limbah dibuang ke sungai. • Emisi gas metana ke udara bebas Hampir semua bahan organik terlarut dan sebagian bahan organik tersuspensi didegradasi secara anaerobik menjadi gas metana dan karbondioksida. Emisi gas metana ke udara bebas dapat menyebabkan efek rumah kaca yang besarnya 20 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan karbon dioksida. Jumlah gas metan yang diproduksi kolam limbah anaerobik sekitar 10 m3 setiap ton TBS diolah. Dengan memperhatikan kerugian pada penggunaan sistem kolam, maka perlu dikembangkan konsep alternatif pengolahan LCPKS secara terpadu. Konsep Alternatif Pengolahan LCPKS Pada tahap pertama, lumpur/padatan tersupsensi dipisahkan dengan dekanter atau dissolved air floatation dengan tujuan • Mengurangi kandungan COD, BOD, nitrogen dan pasir • Mengurangi masalah pada proses pengolahan berikutnya seperti foaming, sedimentasi dan penyumbatan pipa outlet reaktor karena adanya lumpur. Setelah lumpur dipisahkan, limbah cair yang kandungan utamanya adalah padatan terlarut di pompakan ke reaktor anaerobik unggun tetap/fixed bed, up flow anaerobic sludge blanket atau lainnya, dimana akan terjadi • Perombakan bahan organik menjadi biogas • Proses perombakan terjadi dalam waktu yang singkat dengan kinerja yang tinggi • Biogas yang dihasilkan dapat ditampung dan disimpan LCPKS yang telah didegradasi secara anaerobik dapat digunakan sebagai air irigasi aplikasi lahan/land application untuk • memanfaatkan nutrisi dalam limbah • menghemat areal untuk kolam • meminimalisasi pencemaran dan konsumsi energi Apabila aplikasi lahan tidak dapat dilakukan, limbah dapat diolah lebih lanjut secara aerobik kolam aerobik atau activated sludge system sampai memenuhi baku mutu lingkungan sebelum dibuang ke sungai. Apabila energi menjadi faktor yang penting, fraksi lumpur dapat diolah secara anaerobik dalam reaktor anaerobik berpengaduk untuk produksi biogas. Lumpur yang sudah diolah dapat digunakan sebagai pupuk bersama dengan limbah cair untuk memanfaatkan nutrisinya. Lumpur juga dapat dikeringkan dengan drum drier untuk dijadikan pakan ternak. Pemanfaatan lain dari lumpur adalah untuk produksi kompos bersama-sama dengan tandan kosong sawit. Lumpur dicampur dengan TKS yang telah dirajang dan dibiarkan beberapa minggu sampai menjadi kompos. Dengan cara ini akan terjadi penguapan air pada lumpur. Tumpukan kompos ini harus dibalik secara periodik agar proses penguapan maksimal. Pada Gambar 2 terlihat beberapa variasi dan konsep alternatif pengolahan LCPKS. Apabila pabrik menggunakan sistem dekender 3 fase, maka tidak diperlukan proses pemisahan lumpur, tetapi proses pengolahan lumpur dan limbah cair adalah serupa. Proses utama dari konsep ini adalah pengolahan secara anaerobik dan pemisahan lumpur. 16 Gambar 2. Konsep pengolahan limbah terpadu PKS dengan separator 2 fase 39 Pengelolaan limbah cair dan lumpur dengan teknologi sistem kolam Teknologi sistem kolam merupakan penanganan limbah cair pabrik kelapa sawit LCPKS yang dianggap paling mudah dan murah bagi pabrik kelapa sawit karena limbah diolah dengan menggunakan prinsip instalasi penanganan air limbah IPAL yang bersifat end of pipe. Gambar 3 menunjukkan proses penanganan limbah cair kelapa sawit dengan menggunakan teknologi sistem kolam PPKS, 2000. Gambar 3. Teknologi penanganan sistem kolam PPKS, 2000 • Recovery Tank Berfungsi untuk mengurangi kadar minyak dari dalam limbah. • Deoiling Pond Berfungsi untuk menangkap minyak yang masih tersisa di dalam limbah, sehingga hanya tersisa 0,4% - 0,6%. • Cooling Pond Berfungsi untuk menurunkan suhu limbah menjadi 20-40 0C, agar mikroorganisme dapat menguraikan limbah. Cooling Pond dapat digantikan dengan Cooling Tower, yang memiliki fungsi sama namun lebih menghemat lahan. Recovery Tank Deoiling Tank Cooling Pond/Tower Netralization Seedling Pond Primary Anerobic Pond Secondary Anerobic Pond Facultative Pond Aerobic Pond FinalPond Public River 40 • Netralization Pond Berfungsi untuk menaikan pH limbah dari 4 menjadi 7,0 – 7,5, dengan menambahkan kaustik soda NaOH atau kapur tohor CaO. • Seedling Pond Berfungsi untuk mengembangbiakan bakteri. Jika sudah siap akan dialirkan ke kolam anaerobik. • Primary Anaerobic Pond Berfungsi untuk mengubah bahan organik majemuk oleh bakteri menjadi asam-asam organik yang mudah menguap. • Secondary Anaerobic Pond Merupakan kelanjutan dari Primary Anaerobic Pond, yang berfungsi untuk mengubah asam organik mudah menguap terutama asam asetat menjadi gas seperti metan, karbondioksida dan hidrogen sulfida. • Facultative Pond Berfungsi untuk menguraikan limbah oleh bakteri fakultatif yang pada penguraian sebelumnya tidak dapat dilakukan oleh bakteri obligat. Dan sebagai kolam transisi sebelum masuk ke aerobic pond. • Aerobic Pond Berfungsi untuk menguraikan senyawa kompleks menjadi sederhana oleh aktivitas mikroorganisme yang memiliki. Bahan organik disintesis menjadi sel-sel baru, dan hasilnya berupa produk akhir CO2, H2O, dan NH3 yang stabil. • Final Pond Berfungsi sebagai penampungan sementara limbah yang telah diolah, dan untuk menguji apakah baku mutunya sesuai dengan peraturan pemerintah pusat dan atau daerah, sebelum dikeluarkan dari sistem pengolahan air limbah. Pengelolaan limbah cair dengan teknologi aplikasi lahan Pemanfaatan limbah cair PKS dengan teknologi aplikasi lahan dilakukan dengan cara mengalirkan limbah yang berasal dari kolam penanganan limbah cair ke parit-parit yang ada di perkebunan kelapa sawit. Pemanfaatan limbah cair PKS menjadi pupuk dikarenakan 41 komposisi limbah cair yang masih banyak mengandung unsur-unsur hara yang tinggi. Proses pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit sebelum dialirkan ke lahan-lahan flat bed perkebunan sama dengan teknologi sistem kolam hingga pada proses pengendapan di kolam anaerobik. Penanganan ini dilakukan bertujuan untuk menurunkan nilai parameter limbah cair seperti BOD < 5000 ppm dan COD < 10000 ppm sehingga lahan dapat menyerap limbah tersebut sebagai pupuk cair organik. Gambar 4 berikut ini adalah yang menunjukkan teknologi yang menggunakan aplikasi lahan PTPN IV, 2004. Gambar 4. Teknologi aplikasi lahan PTPN IV, 2004 Pengelolaan limbah padat dengan teknologi mulsa Penanganan limbah padat berupa tandan kosong sawit dengan menggunakan tekologi mulsa merupakan teknologi penanganan yang paling mudah dan murah diantara sistem penanganan limbah padat lainnya. Proses teknologi mulsa hanya dilakukan dengan meletakkan dan mengatur tandan kosong sawit pada bagian-bagian dari lahan perkebunan sebagai pupuk organik. Penyebaran TKS harus sesuai dengan prosedur 42 agar tidak memicu pembususkan pada tanaman kelapa sawit PPKS, 2000. Selain pemanfaatan nilai haranya, dengan teknologi mulsa juga dapat diperoleh keuntungan sebagai berikut. • Perbaikan struktur tanah oleh mikroorganisme pada pelapukan tandan buah sawit • Pengurangan erosi tanah karena pembentukan lapisan pelindung • Perbaikan penahanan air dan pengurangan penguapan oleh lapisan yang terbentuk. Ada beberapa kerugian pemanfaatan mulsa sebagai pengganti pupuk anorganik, yaitu dapat terjadinya pembentukan jamur karena masih memiliki nilai hara yang tinggi sehingga menimbulkan pencemaran bau pada areal perkebunan. Kontrol yang kurang terhadap nilai-nilai parameter juga dapat memicu proses anaerob yang menyebabkan kematian tanaman kelapa sawit. Pengelolaan limbah cair dan limbah padat TKS dengan teknologi pengomposan Teknologi pembuatan kompos Gambar 5 pada pabrik kelapa sawit terdiri dari 5 tahapan proses, yaitu PTPN IV, 2003 i Pencacahan Tandan Kosong Sawit Pencacahan dilakukan untuk mengecilkan ukuran tandan kosong sawit sehingga bidang kontak proses dapat menjadi lebih besar dan proses pengomposan dapat berjalan dengan baik. ii Pembuatan Tumpukan Pembuatan tumpukan dimaksudkan agar bahan pembuatan dapat ditangani dengan mudah dan bahan tidak bercecer ke mana-mana. Pembuatan tumpukan umunya memiliki lebar 3 meter dan tinggi mencapai 1,2 meter, sedangkan panjangnya tergantung ketersediaan lahan dan produksi kompos. iii Pembalikan Pembalikan dilakukan agar seluruh bagian tumpukan memperoleh aerasi yang cukup sehingga pengomposan dapat berjalan dengan baik. 43 Pembalikan dilakukan 3 – 5 kali dalam seminggu. iv Penyiraman Limbah Cair PKS Penyiraman dengan menggunakan limbah cair PKS bertujuan untuk menambah unsur hara dalam produk pengomposan. Penyiraman dilakukan 3 - 5 kali seminggu. v Pengeringan/Penjemuran Pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran dimaksudkan untuk mengurangi kadar air pada produk kompos yang diproduksi. Beberapa keuntungan penggunaan teknologi kompos, yaitu proses terjadi secara aerobik, tanpa penambahan mikroorganisme, waktu pengomposan 6-8 minggu, mutu produk tinggi dan homogen, resiko kegagalan kecil, memanfaatkan limbah cair, dan kebutuhan tenaga kerja rendah. Gambar 5. Teknologi Pengomposan PPKS, 2000 MGN/Catur Pemkab Batubara, Sumut, menyegel pabrik minyak kelapa sawit karena melanggar aturan lingkungan hidup. PEMERINTAH Kabupaten Batubara, Sumatra Utara Sumut, menyegel sebuah pabrik kelapa sawit. Pasalnya pabrik itu telah melanggar sejumlah aturan terkait lingkungan hidup. Penyegelan dilakukan di PT Buana Sawit Indah BSI di Desa Perkebunan Petatal, Kecamatan Datuk Tanah Datar, Batubara, Kamis 08/06/2023 sore. Penyegelan dilakukan petugas gabungan dari Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Pemkab Batubara, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Dinas Ketenagakerjaan Perindustrian dan Perdagangan, Satuan Polisi Pamong Praja dan pihak pemerintah kecamatan setempat. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Pemkab Batubara, Frans Siregar mengatakan penyegelan dan pembekuan sementara izin perusahaan dilakukan selama enam minggu. Jika hingga batas waktu tersebut pihak perusahaan tidak melaksanakan rekomendasi dari Pemkab Batubara, maka izin perusahaan akan dicabut secara permanen. Baca juga Studi Pulau Pohon di Kebun Kelapa Sawit Mampu Tingkatkan Keanekaragaman Hayati "Penyegelan ini terkait dengan ketidaktaatann perusahaan membuat izin terhadap limbah B3 dan cair," ujar Frans. "Ini kita buat pembekuan sementara, selama enam minggu. Jika tidak dilaksanakan maka akan dibekukan permanen," imbuhnya. Baca juga Petani Sawit Harus Mampu Produksi Bahan Baku untuk UMKM Adapun sejumlah aturan yang dilanggar pihak perusahaan di antaranya izin pemanfaatan limbah, uji parameter emisi boiler, uji parameter emisi genset, uji parameter kualitas udara ambien dan rekomendasi pengangkutan limbah B3. Z-3 Kinerja Pj Bupati Kepulauan Yapen Dapat Sorotan Masyarakat 👤Thomas Harming Suwarta 🕔Kamis 15 Juni 2023, 1803 WIB Mereka menyoroti tata kelola pemerintahan yang banyak menimbulkan gejolak sosial di masyarakat utamanya menyebabkan mundurnya perekonomian... Joyday Donasikan Laptop untuk Madrasah Tsanawiyah di Desa Sukamukti 👤Media Indonesia 🕔Kamis 15 Juni 2023, 1718 WIB Bantuan laptop diberikan agar kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lebih baik sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas... STANDAR LAND APLIKASI LA Land Aplikasi LA limbah cair dari Pabrik Kelapa Sawit merupakan salah satu penyumbang Hara bagi Pertumbuhan dan Perkembangan Kelapa Sawit. Banyak perkebunan melaporkan produksi di blok-blok yang terdapat aplikasi limbah cair cenderung lebih tinggi dimana terdapat kenaikan yang signifikan dari berat Janjang BJR dan juga ketersediaan Jjg/pkk yang tinggi. Agar dapat memahami dan dapat memfungsikan LA ini dengan baik maka beberapa hal standar terkait Land Aplikasi kami gambarkan sebagai berikut. Dosis Limbah Cair POME yang optimum untuk satu Ha luasan adalah 750 ton /Ha/tahun, dengan Rotasi dalam satu tahun adalah 3 rotasi, sehingga dalam satu rotasinya didapatkan dosis 750 ton 3 R = 250 ton per Ha per rotasi. Ukuran kolam Flatbed standar adalah 3,2 m x 2,4 m x 0,5 m Panjang x Lebar x Dalam dimana kedalaman 0,5 m merupakan kedalaman areal perakaran. Total kapasitas Flatbed = 3,84 m3 1 m3 = 1 ton Jika dibutuhkan 250 ton/Ha per Rotasi, maka kebutuhan Flatbed per Ha adalah = 250/3,84 = 65 66 Flatbed/Ha Volume limbah dari satu ton TBS Olah adalah = 65 % Kapasitas olah per jam = 60 ton per jam Waktu olah rata-rata dalam satu hari = 18 jam per hari kerja Limbah yang dihasilkan adalah = 60 ton/jam x 18 jam x 65% = 702 ton limbah cair/Hari = 702 x 300 = ton limbah cair/Tahun Luas Land Application LA yang dibutuhkan seluas = ton limbah cair/Tahun / 750 ton/Ha/Tahun = 281 Ha Limbah Cair POME yang digunakan untuk Land Application LA mengandung unsur hara antara lain o N Nitrogen = 450 mg/L Beberapa sumber menyebutkan 500 – 900 mg/L o P Phosphate = 80 mg/L Beberapa sumber menyebutkan 90 – 140 mg/L o K Kalium = mg/L Beberapa sumber menyebutkan – mg/L o Ca Calsium = 200 – 400 mg/L o Mg Magnesium = 215 mg/L Beberapa sumber menyebutkan 250 – 350 mg/L Kandungan pupuk Makro dalam POME ini setara dengan aplikasi pupuk NPK sebesar 12,19 kg/pkk dengan syarat BOD Limbah Cair yang digunakan sebesar mg/L BOD yang dibutuhkan untuk LA = – mg/L. Ini menghemat kurang lebih 3,3 Milyar jika fungsi Land Aplikasi menggantikan Pemupukan Reguler Anorganik. Jika Pabrik Kelapa Sawit PKS baru dapat memberikan POME dgn BOD saat ini = 800 mg/L, maka manfaat setara NPK yang diterima pokok pada areal Land Aplikasi Kebun adalah = 800 / x 12,19 kg/pkk = 2,4 kg/pkk Ditambah dengan “Ketersediaan Air untuk Proses Fotosintesis” Dalam Evaluasinya, PKS yang masih menggunakan “single feeding” dalam memberi umpan bakteri, sebaiknya menggunakan “Multi feeding” Untuk aplikasi yang lebih baik, Kawal Aplikasi Land Aplikasi di Kebun Anda dengan Baik Pupuk yang baik adalah Telapak Kaki Planter yang menyusuri pokok demi pokok