GunungBromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif dan memiliki ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut. Gunung Bromo merupakan salah satu destinasi terbaik di Indonesia karena alam yang sangat indah dan keunikan budayanya. Di Bromo sudah banyak tersedia akomodasi yang memadai. LukisanPedagang Garam Suku Maya Kuno, Cirebon Tambak Garam Rakyat Terluas 25 Maret 2021 25 Maret 2021 oleh Dian Arief Setiawan - 22 views Catatan pertama yang mendokumentasikan garam sebagai komoditas Maya kuno di pasar digambarkan dalam mural yang dilukis lebih dari 2.500 tahun di Meksiko. RadenSaleh adalah orang Jawa, lukisan-lukisannya banyak mengambil nafas alam Jawa, Lain halnya jika memakai kacamata periodesasi bahasa Jawa pada periodesasi seni rupa Jawa; seni rupa kuno, seni rupa pertengahan, dan seni rupa modern. Mengingat banyak kisah yang menyatakan bahwa Arya Prabangkara hidup di masa Wilwatikta, untuk sementara Bahkanlukisan figuratif dari Indonesia dapat disebut paling kuno untuk setidaknya hingga saat ini dan pembuatnya tentu juga bukan orang yang diusir dari surga. Lukisan yang berasal dari Indonesia lebih kuno dari Jepang dan Tiongkok, bahkan Prancis. Lukisan tradisional di Jawa dan Bali yang pada dasarnya merupakan kelanjutan dari gaya seni Dalamlukisan Dali “Metamorphosis of Narcissus”(1934, Tate Gallery, London, England), sang seniman merujuk pada tokoh mitos Yunani kuno, Narcissus, yang mana adalah seorang anak muda yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri dan Salahsatu yang memperkuat terori itu adalah studi terhadap lukisan makam Mesir, yang memperlihatkan semangka sebagai makanan penutup lebih dari 4000 tahun yang lalu. Meski begitu di mana dan kapan semangka persisnya pertama kali didomestikasi, masih menjadi perdebatan. Baca juga: 5 Khasiat Buah Semangka, Salah Satunya Menghidrasi Tubuh ApaAdanya Lebih Baik Lukisan Sejarah Kuno Pelukis Source Image @ id.pinterest.com. Gambar Orang Jawa Kuno Dari Sumber Asing Non Eropa Kekunoan Litografi Gambar Orang Orang Bali Source Image @ id.pinterest.com. Lukisan Pemandangan Di Bogor Jawa Barat Sekitar 1875 Oleh Abraham Salm PenataanRuang Dalam Rangka Pelestarian Kawasan Cagar Budaya: Kajian Kota Kuno Banten Lama, Yosua Adrian Pasaribu 19 Pugungraharjo, Negarasaka, dan Bentengsari mengalami pertumbuhan pesat. Kota-kota kuno tersebut memiliki tata kota, sistem pertahanan, dan peninggalan purbakala yang relatif sama (Guillot 2008:25). Pada tahun 1200-1400 M, kota Banten JejakKehidupan Jawa Kuno di Kaliurang. SUATU ketika keluarga pembatik Yogyakarta, Haryono resah akan keberlangsungan batikbatik kuno yang nyaris habis karena diburu kolektor asing. Dari situlah, ide mendirikan Museum Ullen Sentalu bermula. BatuRosetta membantu arkeolog dalam usahanya menguraikan huruf hieroglif Mesir di awal abad ke-19. Pada saat itu, hanya beberapa orang Mesir yang mampu membaca tulisan hieroglif kuno dan batu Rosetta memberikan kesempatan untuk menggali informasi yang hilang, serta membantu memecahkan teka-teki, termasuk ‘The riddle of Sphinx’. XMgRv. Sambil duduk selonjor di kursi tamunya, diisapnya pipa berbentuk L itu dalam-dalam. Gandamata tetap tak berkedip. Agak berselang lama ia tak mengisap pipanya, semata-mata agar apa yang ia tatap di tembok itu tak terhalangi asap lagi. Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri. - "MUNGKIN belasan miliar. Mungkin puluhan miliar...” ia bergumam sendirian. Ia lantas berdiri. Dengan tetap tidak mengisap pipanya, ia berjalan lambat menuju tembok itu. Tangan kanannya terangkat dan jari-jarinya menyentuh pigura sebuah lukisan. Kemudian ia menggosok-gosok bagian ujung lukisan itu. Dan kepalanya mengangguk-angguk lagi. ”Benar. Benar asli ciptaan Canaletto. Giovani Antonio Canaletto...katanya.” Lagi-lagi ia berbicara sendiri. ”Ini tak terhingga. Bahkan tak bisa dihitung dengan uang harganya!” Nadanya mengentak dalam sendirian. Kemudian ia mengambil handphone. Dengan perlahan ia memencet nomor-nomor. Dan tersambung dengan seorang wartawan. ”Bung!” katanya kepada seseorang di seberang sana. ”Saya telah membaca artikel yang Bung muat itu. Pada mulanya saya tak percaya bahwa lukisan Canaletto itu berharga sampai miliaran rupiah. Saya tak percaya. Tapi setelah saya pikir lama, sungguh bodoh jika saya tak percaya. Sungguh bodoh, Bung! Tetapi, masih berkait dengan itu, saya ingin tanya lagi. Benarkah yang Bung tulis bahwa lukisan Canaletto yang ada di rumah saya adalah lukisan asli? Benarkah lukisan itu semula dibawa oleh saudagar Italia yang mendirikan pabrik gula di Banyuwangi?” Gandamata diam menunggu jawaban. ”Saya bertanggung jawab penuh atas semua yang saya tulis itu, Pak. Bapak kan tahu kredibilitas koran kami. Bapak pasti juga tahu kualifikasi semua wartawan koran kami
 Dan Bapak kan tahu saya juga, yang pernah belajar seni renaisans di Italia? Saya senang jika sekiranya ada informasi baru mengenai lukisan itu.” Selama beberapa jenak tak ada suara-suara di kedua telepon. Masing-masing seperti menunggu satu, dua, atau tiga kata dengan penuh tanda tanya. ”Saya tidak punya informasi baru, Bung. Saya sekadar ingin meyakinkan perasaan saya sendiri bahwa lukisan yang tergantung di rumah saya ini asli, seperti tulis Bung. Karya Canaletto!” ”Ya aslilah. Memang asli Canaletto
 Kenapa gundah,” sahut wartawan. Dengan tangan agak gemetar Gandamata mematikan teleponnya. Napasnya serta-merta terengah-engah. Ia lalu mengaparkan diri sesantai-santainya. Ia mendadak merasa luar biasa beruntung. Lukisan kuno berukuran besar yang dibeli di pasar loak ternyata karya seniman besar yang tiada taranya. Lukisan panorama klasik yang dibeli setengah hati ternyata karya seni yang harganya tiada terperi! *** Sejak itu Gandamata menampilkan sikap berbeda dari hidup biasanya. Gesturnya penuh kewaspadaan. Matanya penuh kecurigaan. Hatinya penuh perkiraan. Pikirannya penuh tuduhan dan penyelidikan. Setiap kali ada tamu yang bertandang ke rumahnya selalu ia sambut dengan mata sedikit nyalang. Mereka dibikin merasa tak betah duduk lama di kursi tamunya itu. Dan segera pulang. ”Bisa saja tamu-tamu yang datang ke sini adalah mereka yang ingin mencari cara mencuri lukisan Canaletto saya. Bukankah koran sudah telanjur menyiarkan sejarahnya dan memuat reproduksinya? Bukankah menurut wartawan itu lukisan ini adalah incaran kolektor sepanjang masa?” Ia berkata dalam hati. ”Saya akan menyimpannya dulu selama beberapa tahun sampai harganya di puncak tertinggi!” Dalam kesendirian ia mendadak merasa bersalah, mengapa ia tempo hari mengizinkan wartawan untuk menyiarkan bahwa dirinya punya lukisan Canaletto. ”Bukankah pemuatan berita itu membuat aku jadi incaran orang?” Kata-kata itu bergumul seru dalam benaknya. Gandamata sungguh menjadi tidak tenteram. Malam hari ia selalu tidur belakangan. Dan pagi hari, sebelum fajar menyingsing, ia bangun duluan. Kala sebelum tidur dan sesudah tidur itu Gandamata selalu duduk di kursi tamu. Menghadap tembok dan melihat lukisan yang tenang menggantung. Ingin ia memindahkan lukisan itu ke dalam kamar tidurnya. Agar keamanan lukisan lebih terjamin dan sekaligus terhindar dari mata orang lain. Namun apa daya, dinding di kamar itu dianggap tidak setinggi martabat dinding ruang tamu sehingga diyakini tidak membuat lukisan menjadi nyaman dilihat dan terasa mapan di tempat. ”Hanya kamar tamu yang layak jadi tempat lukisan ini,” kata Gandamata kepada angin. Ketika akan berangkat ke kantor, ia selalu berpesan kepada istrinya dan kepada para pembantunya. ”Sedapat mungkin jangan ada siapa pun yang duduk di ruang tamu. Jika pun mereka harus duduk, ajak mereka di beranda.” Istrinya yang sudah berkali-kali terperanjat kali ini semakin heran berlipat-lipat. ”Kok Bapak mendadak seperti koruptor saja, selalu menghindari kedatangan orang. Kalau ingin menghalau tamu, sekalian saja kita pasang papan Awas Ada Anjing Galak di depan rumah. Agar yang mau datang segera tergusah.” ”Ide bagus. Tapi di rumah ini tidak pernah ada suara anjing. Jadi siapa percaya? Apa kau mau bersuara seperti herder?” Istrinya terdiam. Begitulah. Yang mengagumkan, sejauh itu istri dan para pembantunya sama sekali tidak paham dengan sikap Gandamata yang tiba-tiba berubah itu. Setiap kali istrinya bertanya mengapa dirinya mendadak aneh, ia membantah keras. ”Saya bukan aneh, tapi waspada!” Dan ketika ditanya mengapa dirinya tiba-tiba waspada, ia menjawab tegas. ”Di zaman serbagila seperti sekarang, waspada adalah benteng paling utama!” Dan ketika istrinya bertanya mengapa yang diwaspadai selalu orang-orang yang akan bertamu, ia menjawab tuntas. ”Tamu sering jadi musuh yang tak terduga!” Ketidakmengertian demi ketidakmengertian merasuki rumah Gandamata. Meski begitu, Gandamata sendiri tetap tak ingin membuka persoalannya ke hadapan istri dan orang-orang serumahnya. Kewaswasannya terhadap setiap tamu dan sikap perlindungannya terhadap lukisannya tetap disimpan sebagai rahasia besar di lubuk hatinya. Lagi-lagi ia berselonjor menghadap tembok sambil menyedot pipanya. ”Canaletto numero uno Italiano,” ia berkata sendiri. Kekagumannya atas mutu lukisan dan kepercayaannya bahwa lukisan itu asli karya Canaletto semakin menjadi-jadi. Dan ketika kekaguman dan kepercayaan itu lagi-lagi menyala, semakin besar pula kekhawatirannya. Jangan sampai lukisan itu dicuri orang. Jangan sampai karya hebat itu dirusak orang. Jangan sampai ada perampok yang memboyong ke luar ruangan dan membawanya pulang. Jantungnya semakin berguncang-guncang. Jiwanya goyah. Dan kebahagiaannya serta-merta meluntur. Sekali waktu ia pernah ingin menurunkan lukisan tersebut dari gantungannya dan memindahkannya ke tempat yang paling tersembunyi. Tapi ide sederhana itu sontak ia batalkan. Ia memperhitungkan dengan memindahkan lukisan itu, rahasia yang ia tutupi di hadapan istri dan para pembantunya segera tersingkap. Mereka akan sadar bahwa selama ini ternyata ia hanya ingin melindungi selembar lukisan, yang tak mereka mengerti nilainya. Gandamata tak ingin rahasia itu terbuka. Selain itu, jika lukisan tersebut diturunkan, tembok akan kelihatan kosong. Dan tamu-tamu yang dahulu pernah ke sana segera bertanya, ke mana lukisan bagus itu sekarang. Kenapa dipindahkan dan mengapa harus disimpan di tempat lain. Hal ini akan memancing tanda tanya besar. Tanda tanya akan merangsang pemikiran. Dan pemikiran akan mendorong orang untuk ingin tahu saja. Dan itu berarti malapetaka. ”Apabila mereka menyangka saya sudah menjualnya, ah betapa besarnya uang yang kuterima! Dengan begitu, para tamu itu akan meneliti di mana uangnya kusimpan dan mereka akan memburunya. Lalu tukang pajak akan datang dengan sopan, memalak.” Akhirnya Gandamata tetap saja tak berbuat apa-apa. Sepulang dari kantor ia langsung saja duduk di situ sambil membaca koran sampai datang waktu mandi atau makan atau tidur. Sebentar-sebentar ia berdiri dan menggosok-gosokkan tangannya ke bagian bawah lukisan tempat tanda tangan Canaletto tertulis. Pekerjaan itu, tentu saja, dilakukan jika segenap orang di rumahnya tak melihat. Ia selalu menjaga lukisan itu. Dan semua ia lakukan dengan landasan kecurigaan. Kecurigaan memang dijadikan landasan mental untuk melindungi lukisannya. Apalagi ketika ia teringat petuah seorang tukang sulap jalanan di pelataran pasar, yang sering ia tonton atraksinya 50 tahun silam. ”Jika engkau tak mau tertipu oleh mainan sulapan, isilah setiap detik pikiranmu dengan air kecurigaan,” begitu tukang sulap itu berkata. Dan tukang selap sulip su’ulapan itu, dalam pikiran Gandamata, kini tidak hanya ada di pelataran pasar, tapi juga di sekeliling rumahnya. Dari sini ia mendadak disergap oleh firasat bahwa ada orang yang segera mencuri atau bahkan merampok lukisannya. Perencanaan sudah disusun dan operasinya tinggal menunggu waktu. Ia merasa tahu benar siapa yang akan melakukan itu. Karena firasat itulah, ia lantas sengaja tak masuk bekerja. Beberapa hari diam di rumah, ia duduk saja selonjor di kursi tamu. Tak bergeming. Setiap makhluk yang mendekati lukisan ia gusah. Cicak, lalat, laron, bahkan sampai nyamuk. Tanpa kenal ampun. Begitu juga ketika seorang pembantunya membersihkan lukisan itu dengan bulu-bulu ayam, ia kontan berteriak, ”Heit. Heit. Heit! Stop!” Wajahnya berang dan garang. Keadaan memang telah banyak berubah. Kewaspadaan, kewaswasan, dan ketegangan Gandamata merayap naik dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari, sampai akhirnya masuk ke minggu dan bulan. Apalagi ketika ia membaca berita terbaru bahwa lukisan Canaletto yang berukuran 28 x 22 cm dilelang oleh Gorringe’s Auction House di Kota Lewes, Inggris, dengan harga 150 ribu pound dalam lelang di New York. ”Hampir tiga miliar
 Bayangkan. Padahal lukisan Canaletto saya dua puluh kali lebih besar!” katanya dalam hati. Detak jantung Gandamata sudah terasa tidak normal lagi. Degup-degup yang menjotos berjuta-juta kali setiap hari menjadikan Gandamata digasak penyakit jantung. Dan benar. Hari itu tiba-tiba ia terkapar di bawah meja tamu. Tubuhnya lemas dan sosoknya mendingin. Di tengah hiruk pikuk ketidakmengertian keluarga ia dibawa ke rumah sakit. Secara bertahap ia diperiksa sampai ia akhirnya masuk sal gawat, ICCU, intensive cardiologi care unit. Syukurlah segala kegawatan segera menyingkir hingga Gandamata tak perlu terlampau lama di ruang yang dingin dan senyap tersebut. Ia pun dipindahkan ke ruang yang lebih lepas dan lebih memiliki kehidupan. Di ruang tersebut Gandamata lantas kembali bisa bebas berpikir dan boleh beromong-omong panjang. Di sini pula si tokoh kita sempat melontarkan pertanyaan kepada dokter yang merawatnya. ”Dokter, apakah saya masih lama harus terbaring di sini?” tanyanya. ”Mungkin dua atau tiga minggu lagi. Kami perlu merawat Anda secara intensif,” jawab dokter. Gandamata terdiam. Wajahnya agak kaget. ”Kalau begitu, bolehkah saya meminta sesuatu kepada dokter?” ”Silakan. Silakan,” sambut dokter tenang. ”Jika dokter mengizinkan, saya akan memindahkan lukisan Canaletto yang saya punya di rumah untuk saya gantung di dekat sini. Demi keamanannya!” katanya. Dokter terkejut. ”Waduh, maaf. Di rumah sakit tak ada seorang pun yang diperbolehkan membawa benda pajangan dari luar.” Tiba-tiba Gandamata berdiri. Wajahnya penuh kemelut. Tangannya lurus menuding sambil berteriak-teriak. ”Seperti yang saya duga, dokterlah yang mau mencuri bahkan mau merampok lukisan saya itu!!” Dalam sekejap, seisi rumah sakit geger. Dokter-dokter lain berdatangan ke ruang itu. Suster-suster ikut menyaksikan kejadian dengan penuh tanda tanya. Sejumlah pasien yang masih kuat berdiri ikut mengintip peristiwa. Dalam suasana kalang kabut itu dokter dengan tenang membuat sebuah surat pengantar, yang isinya tertuju ke dokter jaga rumah sakit jiwa. Esoknya wartawan yang dikenal baik oleh Gandamata menyiarkan peristiwa ini di korannya. Di rubrik kecil tersebut tertulis kalimat ”Seorang pemimpin perusahaan terguncang jiwanya setelah tahu bahwa koleksinya yang dianggap karya Canaletto ternyata palsu.” * - AGUS DERMAWAN T., Penulis seni rupa, kebudayaan, puisi, dan cerpen. Sekumpulan puisinya terhimpun dalam buku Pantang Kabur 2022. Ilustrasi lukisan keragaman masyarakat di Batavia dalam gerbong trem karya Rappard yang dibuat pada sekira 1881 hingga 1889. Wikimedia Commons. Orang-orang dari mancanegara sudah sejak lama datang ke Jawa. Pemerintah kerajaan di Jawa pun merasa perlu membentuk petugas dan sistem untuk mengatur keberadaan orang-orang asing itu. Munculnya aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta dalam berbagai prasasti merupakan bukti bahwa pengaruh asing sudah diterima masyarakat Nusantara. Contohnya prasasti-prasasti dari Kutai di Kalimantan dan Tarumanegara di Jawa yang berasal dari abad ke-5. “Tapi dulu belum ada penyebutan yang eksplisit tentang orang asing. Baru ada pada masa Airlangga. Selanjutnya makin sering muncul di Prasasti Majapahit,” kata Asri Hayati Nufus dalam webinar berjudul “Kajian Prasasti Masa Airlangga” yang diadakan Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia PAEI dalam rangka purnabakti arkeolog Universitas Indonesia, Ninny Soesanti pada Selasa 25/05/2021. Raja Airlangga merupakan penguasa Kahuripan pada 1019–1042. Pada masanya, jumlah orang asing sudah banyak, sebagaimana dibuktikan lewat Prasasti Kamalagyan 1037. Misalnya, orang dari Kalingga, Arya, Srilangka, Pandikira, Dravida, Campa, Khmer, dan Remin. Baca juga Raja Pembangun Bendungan Sang raja pun merasa perlu menunjuk petugas untuk mengurusnya. Di antaranya ada petugas yang dinamai juru kling, juru hunjeman, dan paranakan. “Tugas mereka menarik pajak dan melakukan pencatatan atau sensus terhadap orang asing,” jelas Asri. Dengan melakukan pencatatan, petugas dapat mendata tujuan kedatangan orang asing ke wilayah kerajaan. Jika orang asing datang untuk bedagang, dia akan dikenakan dua tipe pajak, yaitu pajak profesi dan pajak orang asing kikeran. “Raja juga bisa mengetahui pengaturan apa yang efektif untuk dikenakan untuk orang asing dan seberapa banyak mereka di Jawa,” jelas Asri. Baca juga Mata Uang Asing di Nusantara Pengaturan Khusus Asri menjelaskan, dari 33 prasasti yang dikeluarkan pada masa Airlangga hanya tiga yang menyebutkan keberadaan orang asing, yaitu Prasasti Cane 1021 yang menyebut istilah paranakan, juru kling, juru hunjeman; Prasasti Baru 1031; dan Prasasti Turun Hyang A 1040. Asri mengartikan paranakan sebagai petugas yang mengurus para keturunan campur. “Kemungkinan orang asing menikah dengan orang Jawa, jadi perlu ada petugas yang mengaturnya,” jelasnya. “Bisa jadi mengurus pedagang keturunan campur dan menarik pajak dari mereka.” Asri mengutip pendapat Subbaralayu, sejarawan India, bahwa kata juru hunjeman berasal dari bahasa Persia, Anjuman yang artinya himpunan atau perkumpulan. “Jadi hunjeman ini sekelompok pedagang, terdiri dari orang Yahudi, Muslim, Kristen, Siria, atau Nasrani, dan orang Persia Zarathustra yang biasanya bermukim di kota-kota pesisir,” kata Asri. Baca juga Relasi Nusantara dengan Persia dan Turki Orang hunjeman pada sekira abad ke-9 hingga ke-11 telah aktif berdagang di wilayah Malabar, India, hingga wilayah Asia tenggara. “Otomatis ke Jawa,” lanjut Asri. Dengan pengertian itu artinya telah ada yang mengatur para kelompok dagang kala Airlangga berkuasa. Petugas itulah yang disebutkan dalam prasasti sebagai juru hunjeman. “Mereka petugas yang mengatur dan mengambil pajak dari orang hunjeman atau kelompok pedagang,” kata Asri. Sementara untuk pendatang India yang mengatur adalah petugas bernama juru kling. Menurut sejarawan George Coedes, kling atau Keling adalah orang yang berasal dari India Selatan, tepatnya dari Kerajaan Kalingga. Sedangkan menurut Petrus Josephus Zoetmulder, pakar kesusastraan Jawa Kuno, Keling adalah Kerajaan Kalingga yang berasal dari India Selatan. Sementara juru kling adalah petugas yang mengurusi orang Keling atau kelompok pedagang yang berasal dari Tamil Nadu. Baca juga Masuknya Aksara Pallawa ke Nusantara Karena begitu banyak orang India, selain mengatur orang dari Kalingga, juru kling juga kemungkinan mengatur orang India lainnya. Mereka adalah Malyala orang Malayala, Aryya orang dari Arya, Karnnataka orang dari Karnataka, Cwalika orang dari Cholika atau Kerajaan Chola, Pandikira orang dari Kerajaan Pandya, Drawida orang Dravida, Balhara orang dari India Utara, Gala orang dari Kerajaan Gauda, dan orang Singhala orang Srilanka. “Karena orang India sangat banyak di Jawa, yang ada bukan hanya orang Kling saja. Jadi, kemungkinan juru kling tak hanya mengatur orang dari Kalingga, tapi orang India secara keseluruhan,” jelas Asri. Pengaturan orang asing juga menyangkut masalah pengadilan yang mengusut kasus orang asing. Pun soal larangan bagi mereka masuk ke wilayah tertentu. “Melihat itu artinya perdagangan internasional masa Airlangga sudah ramai,” kata Asri. Baca juga Sriwijaya dalam Perdagangan Dunia Disambut Baik dan Hangat Pada masa Majapahit, sumber terawal yang menyinggung keberadaan orang asing adalah Prasasti Balawi 1305 sebagaimana ditulis Hery Priswanto, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam “Orang-orang Asing di Majapahit” yang termuat dalam Majapahit, Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota. Prasasti Balawi atau Prasasti Kertarajasa menyebutkan adanya orang dari Keling, Arya, Singhala, Karnnataka, Bahlara, Cina, Campa, Mandikira, Remin, Khmer, Bebel, dan MambaƋ. Selain Prasasti Balawi, Kakawin Nagarakrtagama 1365 juga menggambarkan kegiatan perdagangan yang melibatkan para pedagang asing. Suasana pasar ketika para pedagang asing melakukan transaksi dagang pun dilukiskan. Bukan hanya dalam hal perdagangan, hubungan dengan orang asing juga menyangkut kerja sama antarnegara. Dalam Kakawin Nagarakrtagama disebutkan negara-negara asing dari Syangkayodyapura, Dharmmanagari, Marutma, Singhanagara, Campa, Kamboja, dan Yamana. Majapahit juga mengikat hubungan persahabatan dengan Jambudwipa, Kamboja, Cina, Yamana, Campa, Karnnataka, Goda, dan Siam. Baca juga Masyarakat Tionghoa di Majapahit Keberadaan orang asing juga dicatat Ma Huan, penerjemah resmi yang mendampingi Cheng Ho, dalam Yingya Shenglan. Pada 1412, Ma Huan menerima tugas pertama dari Kerajaan Ming untuk menemani sang laksamana berlayar ke banyak negeri. Dalam catatannya, Ma Huan menyebut Majapahit dan kota-kota pelabuhan seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya. Dia menyebut, kawasan Pantai Utara itu banyak dikunjungi oleh pedagang asing dari Arab, India, Asia Tenggara, dan Cina. Terutama orang Cina dan Arab, banyak yang menetap dan berdagang. Mereka masuk ke dalam tiga golongan penduduk Jawa. Ma Huan mencatat, orang Arab atau penganut ajaran Muhammad, berasal dari daerah barbar bagian barat. Kegiatannya berdagang dan menetap di Jawa. “Pakaian dan makanan mereka bersih dan bagus,” catatnya. Golongan kedua adalah Tangren atau Tenglang merujuk pada orang Cina. Umumnya mereka berasal dari Guangdong, Zhangzhou, dan Quanzhou. Golongan ketiga adalah orang Jawa yang lebih dulu menetap. Baca juga Catatan Ma Huan tentang Masyarakat Majapahit Ma Huan merupakan orang pertama yang menyebut bahwa penduduk Jawa ada yang berasal dari Cina. Meski kedatangan orang Cina di tanah Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-6. Banyaknya orang asing yang tinggal di Jawa rupanya tak banyak mendapat penolakan. Setidaknya begitu menurut Kakawin Nagarakrtagama. Mpu Prapanca menulis, pada saat kedatangan orang-orang dari negara lain, mereka disambut baik dan hangat. “Itulah alasannya mengapa tanpa henti semua orang datang dari negara lain tak terkecuali dari Jambudwipa India, Kamboja, Cina, Yamana Annam, serta Campa, Karnnataka India Selatan, Goda Gauri, dan Syangka Siam yang berangkat dari tempat asalnya dengan naik kapal bersama-sama dengan pedagang,” tulisnya. Makanya, menurut Hery Priswanto, “Para tamu asing yang mengarungi lautan bersama para pedagang, resi, dan pendeta merasa puas dan senang menetap di Majapahit.” Baca juga Corak Asing di Kesultanan Cirebon Hong Kong a vĂ©cu sa grande semaine artistique de l’annĂ©e avec des dizaines de vernissages, de foires de l’art, les enchĂšres de Sotheby’s, des milliers de visiteurs curieux et des centaines de collectionneurs. Une semaine marquĂ©e par la primautĂ© de l’argent sur la production artistique, avec dans les coulisses beaucoup de snobisme. Mais oĂč Ă©tait passĂ© l’esprit et de l’art hongkongais ? Parmi ce grand dĂ©ferlement de galeristes et d’artistes stars de l’art contemporain international, c’est une jeune artiste hongkongaise, Ko Xiu Lan, qui a sans doute eu le plus de couverture mĂ©diatique dans la presse locale. Ceci grĂące Ă  une installation apparemment simple et anodine mais qui reflĂ©tait l’atmosphĂšre inquiĂšte du moment. Elle posait une question essentielle, celle de la place et de l’avenir de Hong Kong face Ă  la Chine continentale. L’influence de la Chine semble de plus en plus prĂ©sente dans la sociĂ©tĂ© hongkongaise qui a vĂ©cu la dispersion du mouvement pro-dĂ©mocratie des parapluies en 2014, la disparition de quatre libraires en 2015, et quelques tentatives de pressions sur la presse. Les Hongkongais s’inquiĂštent pour leur libertĂ© d’expression et la libertĂ© de la presse, mais ils regrettent aussi l’autocensure pratiquĂ©e par certaines institutions culturelles publiques ou privĂ©es soucieuses de ne pas se discrĂ©diter auprĂšs du pouvoir de PĂ©kin. HONG KONG/IS/ISN’T/CHINA /IS/ISN’T/HONG KONG » L’installation intitulĂ©e New Territories Old Territories » est une Ɠuvre de la jeune artiste Ko Xiu Lan, qui poursuit depuis quelques annĂ©es un travail consistant, axĂ© sur la libertĂ© d’expression, la censure et le langage au niveau international. Les quelques mots ci-dessus figuraient sur trois pĂŽles tournant comme des moulins Ă  priĂšres tibĂ©tains, et pouvant se lire dans plusieurs directions. Dans le contexte politique de un pays-deux systĂšmes », ils expriment l’ambiguĂŻtĂ© de l’identitĂ© des Hongkongais. Ils sont Chinois mais aussi Hongkongais et dĂ©sirent garder leurs diffĂ©rences et particularitĂ©s culturelles. Ko Siu Lan est nĂ©e Ă  Xiamen, sur la cĂŽte sud de la Chine, mais a grandi et a Ă©tudiĂ© Ă  Hong Kong. DiplĂŽmĂ©e de l’UniversitĂ© de Hong Kong en sociologie, elle a travaillĂ© dans le dĂ©veloppement durable et l’humanitaire Ă  Hong Kong et en Chine jusqu’en 2007. TrĂšs concernĂ©e par les problĂšmes de la sociĂ©tĂ©, elle s’est engagĂ©e avec dĂ©termination par de nombreuses performances, installations, Ɠuvres de rues rĂ©alisĂ©es un peu partout dans le monde .Ses performances faites en public sont trĂšs physiques. Elles utilisent le corps humain et sont souvent en interaction avec le public, car ils sont toujours en relation avec la sociĂ©tĂ© contemporaine. Ses performances ont un cĂŽtĂ© poĂ©tique mais posent des questions essentielles Je ne crois pas Ă  l’utopie, je trouve l’utopie ennuyeuse, je ne crois pas aux idĂ©aux, je crois au mouvement, aux changements, aux possibilitĂ©s multiples, aux fossĂ©s, aux limites, aux hasards. » Catalogue Le week-end de sept jours, Beaux-arts de Paris, 2010 Travailler plus pour gagner plus » Nicolas Sarkozy En 2007, elle est invitĂ©e en rĂ©sidence de deux ans Ă  l’Ecole Nationale SupĂ©rieure des Beaux-arts de Paris dans le programme La Seine » destinĂ© aux jeunes artistes internationaux. A la suite de ce programme, elle sera invitĂ©e Ă  participer Ă  l’Exposition Le Week-end de sept jours » organisĂ©e fĂ©vrier 2010 par Les Beaux-Arts de Paris et la commissaire Clare Carolin du Royal College of Art, Londres. S’inspirant de la cĂ©lĂšbre phrase du prĂ©sident français Nicolas Sarkozy, Travailler plus pour gagner plus » Ko Siu Lan avait tendu devant l’Ecole des Beaux-Arts de Paris de grandes banniĂšres avec les mots Travailler/ Gagner/Plus/ Moins » qui par glissement pouvaient se lire selon la direction d’oĂč on les regardait en Gagner Plus, Travailler Moins » ou en Travailler moins, Gagner moins » etc. Elle s’amusait ainsi non sans humour Ă  dĂ©construire la pensĂ©e capitaliste et Ă  suggĂ©rer que le souhait de la population Ă©tait peut-ĂȘtre autre, que ces gens qui avaient pour certains durement travailler toute leur vie pouvaient souhaiter de meilleures conditions de vie, travailler moins, gagner plus » par exemple. L’Ecole des Beaux-Arts estimant que cela pouvait porter atteinte Ă  la neutralitĂ© du service public » prit peur et fit retirer les banniĂšres. Cette censure provoqua aussitĂŽt un scandale et fit la une de la presse internationale, au point que le ministre français de la culture FrĂ©dĂ©ric Mitterrand, dut intervenir, s’excuser auprĂšs de l’artiste et ordonner Ă  l’école de remettre les banniĂšres. Cette mĂ©diatisation fit connaĂźtre Ko Siu Lan internationalement. Dynamiter le langage pour le rendre subversif AprĂšs de nombreuses performances, le travail de Ko Siu Lan a Ă©voluĂ© vers le langage, jouant, comme dans l’exemple ci-dessus, sur la polysĂ©mie et l’assemblage des mots. Le langage est indissociable de la pensĂ©e, c’est donc en le dĂ©tournant, que l’on provoque un questionnement soudain de la pensĂ©e, comme si l’on dĂ©tournait vers une voie d’aiguillage un train habituĂ© aux mĂȘmes rails. Le langage bouleversĂ© ou inversĂ© devient alors subversif. L’artiste joue Ă©galement avec les piĂšges de traduction entre l’anglais et le chinois qui provoquent de nombreux malentendus. Elle s’amuse par exemple dans Harmonious Signs, Ă  dynamiter le langage en le distordant sur des objets familiers tels que les petites plaques mĂ©talliques fixĂ©es sur les portes des toilettes ou des bureaux. Attention Sol glissant », Gardez le silence s’il vous plaĂźt » deviennent Attention DĂ©mocratie » ou Silence Corruption en cours ». L’astuce est de garder le mĂȘme symbole visuel auquel l’Ɠil est habituĂ©, mais de changer le texte dans une langue ou dans l’autre. Souvent, on n’y prĂȘte pas attention au premier regard, mais au second la rĂ©alitĂ© se rĂ©vĂšle et s’imprime dans notre Ɠil. Un simple jeu peut Ă©galement devenir significatif son Rubik’s cube intitulĂ© One Only Cube » en français, L’ Un seulement » est un petit cube aux couleurs vives dont le titre et les six faces incarnent un concept philosophique, sociĂ©tal et politique que l’artiste dĂ©finit avec une feinte innocence, car de quelque façon qu’on le manipule, on ne peut Ă©chapper Ă  cette dictature de l’Un Un Pays – Un SystĂšme », Une Nation – Une Race », Un Parti – Une Voix », Un Mari – Une Femme », Une Famille – Un Enfant ». Et pour ceux qui espĂ©reraient encore y Ă©chapper Un Monde – Un RĂȘve » ! En un cube et onze mots Ko Siu Lan nous livre les arcanes de la sociĂ©tĂ© contemporaine chinoise dans laquelle elle vit. C’est cette apparente insignifiance et lĂ©gĂšretĂ© dans un simple cube de jeu qui rend cette Ɠuvre hautement subversive. Quand le langage est censurĂ© naĂźt un double langage qui s’insinue dans toutes les failles